Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Quatly A. Alkatiri menjadi pembicara dalam giat Penyebarluasan Informasi, Peluang, Mekanisme, dan Prosedur Kerja TA 2023 di Solo, Minggu (26/11). (M.IHSAN/RADAR SOLO)

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Quatly A. Alkatiri menjadi pembicara dalam giat Penyebarluasan Informasi, Peluang, Mekanisme, dan Prosedur Kerja TA 2023 di Solo, Minggu (26/11). (M.IHSAN/RADAR SOLO)

 

 

RADARSOLO.COM – Angka pengangguran yang cukup tinggi baik di Solo maupun Jawa Tengah memaksa pemerintah harus putar otak guna menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan pelatihan-pelatihan ketenagakerjaan yang baik agar para pencari kerja memiliki kesempatan yang tinggi agar bisa diterima di suatu perusahaan atau setidaknya bisa memulai usaha mandiri masing-masing.Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Surakarta, Windi Satriawan mengungkapkan, jumlah pengangguran terbuka di Solo hingga saat ini masih ada di kisaran 16.891 orang. Banyaknya pengangguran itu dipicu karena sejumlah hal. Mulai dari kompetensi yang rendah hingga lapangan kerja yang jauh lebih sedikit ketimbang para pencari kerja.

”Saat ini penganguran terbukanya sekitar 16.891, setara 4,58 persen menurun dari tahun 2022 lalu yang jumlahnya setara 5,85 persen. Permasalahannya karena lapangan kerja yang sedikit, kemudian saat lapangan kerja ada, kemampuan para pencari kerjanya belum mumpuni,” terang dia dalam giat Penyebarluasan Informasi, Peluang, Mekanisme, dan Prosedur Kerja Tahun Anggaran 2023 yang dihelat bersama Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Tenaga Kerja Kota Surakarta di Sarila Hotel, Minggu (26/11) siang.

Untuk mengatasi itu, Dinas Tenaga Kerja Kota Surakarta menyiapkan sejumlah program mulai dari pelatihan, pemagangan, hingga penempatan kerja dengan bekerja sama dengan sejumlah industry maupun lembaga lain yang ada di kota bengawan. Selain itu juga ada pelatihan keterampilan untuk mengarahkan pada kegiatan kewirausahaan.

”Ada pelatihan pemaganan penempatan. Kalau tidak kewirausaha larinya nanti ke perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar. Kita siapkan kompetensinya juga beri pelatihan untuk bisa usaha mandiri,” beber Windi Satriawan.

Permasalah ketenagakerjaan itu diakui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Mengingat angka pengangguran terbuka hingga saat ini masih lebih dari 1 juta pengangguran yang dipicu sejumla permasalahan yang mirip antar satu daerah dengan daerah lainnya. Oleh sebab itu, pihaknya menggenjot penyaluran informasi agar kesempatan kerja dan kesempatan mendapat pelatihan makin terbuka lebar untuk masyarakat.

Pengangguran di Jawa Tengah di 1 juta lebih. Masalahnya mirip-mirip seperti lowongan kerja yang tidak bisa dipenuhi, pencari kerja tidak mau keluar dari daerah asalnya, juga karena kurangnya informasi yang bisa diakses masyarakat. Makanya kegiatan ini kita maksimalkan penyaluran informasi tentang job fair dan sebagainya agar serapan tenaga kerja makin maksimal atau bisa diarahkan untuk berwirausaha,” hemat Penggerak Swadaya Masyarakat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemprov Jateng, Tri Kartika Martiyana.

”Saya minta kawan-kawan di dinas ini lebih berani dan lebih inovatis dalam mengajukan proposal pendanaan, selama itu baik dan untuk kesejahteraan warga inysaallah akan kami bantu. Jadi jangan hanya memberikan pelatihan saja, namun juga harus dilengkapi dengan pengadaan barang. Saya maunya teman-teman ini bisa lebih greget. Kalau itu pelatihan jahit, pulangnya ya bawa mesin jahit. Kalau latihan gunting rambut, ya pulangnya bawa alat cukurnya. Jadi mereka langsung bisa kerja sepulang dari pelatihan. Kalau jenengan anggarkan pasti kami setujui semua,” tegas Quarly. (adv-nif)

Editor: Damianus Bram

sumber:

https://radarsolo.jawapos.com/nasional/843341547/serap-aspirasi-terkait-kebutuhan-lapangan-kerjausulkan-kewirausahaan-untuk-tekan-angka-pengangguran